Skip to content
Juli 19, 2010 / jual biji jabon

Jabon: Laba Segar Masa Depan

Banyak tetangga mencibir ketika Hendrikus Setiawan menanam 1.250 bibit jabon
Umur 1 tahun. pada musim hujan Desember 2003. “Untuk apa menanam jabon,
kayunya tak laku,” ujar seorang tetangga seperti diulangi Setiawan. Lima tahun berselang, beberapa pengepul datang menawar. Setiawan pun memanen 1.000 pohon berumur 6 tahun dan mengantongi omzet Rp300-juta.

Tinggi pohon berumur 6 tahun itu 30—40 mdan berdiameter rata-rata 40 cm. Harga jualRp300.000 per pohon relatif murah karena ketika itu Setiawan sedang memerlukan uang dalam jumlah besar. Sebelumnya, pada 2006 pekebun di Desa Bendo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu menjarangkan 112 pohon yang memberikan Rp30-juta. Dari total 1.250 bibit yang ia budidayakan, 138 bibit di antaranya mati
sepekan setelah penanaman. Menurut sulung 3 bersaudara itu biaya selama 6 tahun mencapai R13-juta.Masih asing mendengar nama kayu jabon? Pohon anggota famili Rubiaceae itu saat ini memang tak sepopuler jati, meranti,atau sengon. Pekebun di
berbagai daerah seperti Cianjur dan Sukabumi,Provinsi Jawa Barat,Cilacap dan Banyumas,Kendal (Jawa Tengah), serta
Kediri (Jawa Timur) baru beramai-ramai menanam jabon sejak 2008. Artinya umur pohon mereka,pada saat ini 1—2 tahun. Wajar jika masih jarang pekebun yang memanen jabon hasil budidaya.
Saat ini penjualan kayu jabon ke produsen kayu sebagian besar berasal dari pohon yang tumbuh liar di pekarangan.Berbondong-bondong Dua tahun terakhir, masyarakat di berbagai
daerah berbondong-bondong membudidayakan
jabon Anthocephalus cadamba. Maraknya
penanaman jabon tampak dari lonjakan penjualan
bibit. Trubus menghubungi 10 penyedia bibit jabon.
Penjualan bibit mereka dalam 2 tahun terakhir
melonjak pesat. PT Silva Tropika Kultur di Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat, misalnya, rata-rata
menjual 3.000 bibit per bulan pada 2010. Menurut
Meli Herawati dari PT Silva Tropika Kultur setahun
sebelumnya volume penjualan rata-rata hanya
500 bibit per bulan.
Hadi Parmono, penjual bibit di Desa Pingit,
Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung,
Jawa Tengah, sanggup menjual 1.000 bibit sepekan.
Pada Maret 2010, ketika ia mulai berniaga bibit
jabon, volume penjualan baru 1.000 bibit per
3 pekan.
Menurut Dr Ir Sri Rahayu MP, ahli Patologi
Hutan Universitas Gadjah Mada, para pekebun
membudidayakan jabon, ketika sengon
terserang karat tumor. Penyakit akibat cendawan
Uromycladium tepperianum meluluhlantakkan
sengon di berbagai sentra. Di Kabupaten
Banjarnegara, Purbalingga, Temanggung, dan
Wonosobo—semua di Provinsi Jawa Tengah—
tercatat luas serangan 9.604 ha atau sepertiga
dari total luas tanam. “Sengon tak bisa
dipaksakan untuk ditanam terus dalam
kondisi penyebaran penyakit karat tumor
seperti sekarang,” kata Sri Rahayu.

Karat tumor pertama kali ditemukan di
Indonesia pada 1996 atau 125 tahun sejak
penanaman sengon pertama kali di Kebun Raya
Bogor pada 1871. Sengon berasal dari Pulau
Seram, Provinsi Maluku. Menurut Dr Ir Eko Bhakti
Hardiyanto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas
Gadjah Mada, serangan hama atau penyakit secara
besar-besaran tergantung spesies organisme
pengganggu tanaman dan spesies pohon.
Saat ini siapa pun sulit memprediksi
kemungkinan terjadinya ledakan penyakit pada
jabon. Eko mengatakan beberapa faktor yang
mempengaruhi ledakan penyakit adalah mobilisasi
organisme penyebab penyakit, jarak antarlahan
jabon, agroklimat, dan lingkungan. Sementara itu
Dra Ila Anggraini, peneliti hama dan penyakit dari
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Bogor, mengatakan saat ini jabon relatif tahan
organisme pengganggu. Jika terdapat serangan pun
masih sporadis. Menurut Sri Rahayu kemungkinan
penyakit karat tumor pada sengon tidak menyerang
jabon karena spesies keduanya berbeda.
Tiga kali panen
Pertumbuhan tanaman yang cepat menjadi
daya tarik bagi pekebun. Menurut Dr Ir Irdika
Mansur MForSc, dosen di Departemen Silvikultur
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, riap tumbuh jabon 7—10 cm per tahun (lihat infografis).
Keistimewaan lain, “Jabon itu tanam satu kali
bisa 2—3 kali panen. Jabon setelah ditebang akan
bertunas kembali. Tunas tumbuh sangat cepat dan
kalau dibiarkan akan jadi pohon yang siap tebang
dalam waktu yang lebih pendek karena akar induk
yang ditebang sudah luas dan dalam dibanding
tanaman baru dari bibit,” ujar Irdika.
Irdika yang juga peneliti Seameo Biotrop
(Southeast Asian Regional Center for Tropical
Biology) pernah memanen sebuah pohon jabon.
Ketika tunggul atau bekas tebangan itu dibiarkan,
kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Namun, ia
belum menyaksikan tanaman “generasi kedua” itu
panen.
Selain itu pohon anggota famili kopi-kopian itu
juga multiguna antara lain sebagai bahan baku
kayulapis, papan blok, korek api, dan mainan.
Menurut Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera,
produsen kayu di Tangerang, Provinsi Banten, tekstur
jabon yang halus, arah serat lurus, dan berwarna
merah sehingga terkesan mahal. “Dulu jabon
tak dilirik karena jenis-jenis kayu seperti meranti
masih tersedia banyak. Sekarang (meranti) sudah
habis. Agar bisa bertahan, industri menyesuaikan
teknologi dengan menggunakan mesin yang bisa
mengolah jenis kayu apa pun,” kata Dr Ir Bambang
Sukmananto, direktur Bina Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian Kehutanan.
Bambang mengatakan kayu lapis jabon tak
kalah berkualitas dibanding kayu-kayu lain. Dengan
kelebihan itu, jabon dapat berfungsi sebagai
face (bagian kayu lapis yang di depan) atau back
(belakang) dalam industri kayulapis dan papan blok.
Sementara itu industri kayu memanfaatkan sengon
hanya sebagai core (bagian tengah). Menurut
Prof Dr Ir Surdiding Efendi dari Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor, jabon mempunyai prospek untuk dikembangkan di hutan tanaman industri,
karena kayunya cocok untuk berbagai penggunaan,
khususnya sebagai bahan baku vinir dan kayulapis.
Terbatas
Selain itu kayu jabon mudah dibuat vinir tanpa
perlakuan pendahuluan dengan sudut kupas
92 derajat untuk tebal vinir 1,5 mm. Dengan
seabrek keistimewaan itu pantas jika banyak
industri kayu berharap pada jabon. Perusahaan yang
mengolah kayu jabon antara lain PT Serayu Makmur
Kayuindo (SMK) yang mengelola total 3 pabrik,
masing-masing sebuah pabrik di Kabupaten
Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Banjarnegara (Jawa
Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat). Menurut Priyono
dari SMK, dari ketiga pabrik baru di Lumajang yang
sudah mengolah jabon.
Sebab, pasokan kayu jabon memang terbatas
dan baru ada di daerah Lumajang. Priyono
mengatakan bahwa Sumber Makmur Kayuindo
di Lumajang memerlukan 99 m3 kayu jabon per
hari. Namun, akibat terbatasnya pasokan baru
terpenuhi 9 m3 per hari. Jika pasokan memadai,
kebutuhan kayu kerabat kopi itu makin meningkat.
Sebagai gambaran kebutuhan pabrik di Desa
Rawaurip, Kecamatan Kanci, Kabupaten Cirebon,
juga mencapai 99 m3 per hari. Industri lain
yang memerlukan jabon adalah PT Kutai Timber
Indonesia.
Perusahaan itu sejak 2006 menjalin kemitraan
dengan pekebun di Kecamatan Krucil dan Tritis,
Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Hingga kini
Bibit jabon hasil perbanyakan
dengan teknologi kultur
jaringan. Lokasi: Laboratorium
Kultur Jaringan Seameo
Biotrop, Bogor, Jawa Barat
Jabon berumur 3 tahun
berdiameter 30 cm. Lokasi
di Desa Sempuhgembol,
Kecamatan Wonomerto,
Kabupaten Probolinggo
Pertumbuhan Jabon
Tanah Subur
Tanah Tidak Subur
Sumber: Perum Perhutani
Trubus 488 – Juli 2010/XLI 15
perusahaan itu menanam setidaknya 1-juta pohon
yang akan panen pada 2—3 tahun mendatang.
Menurut Agus Setiawan SHut dari PT Kutai Timber
Indonesia (KTI), pasokan jabon masih sangat
terbatas, 2—10 m3 per sekali kirim. KTI membeli kayu
berdiameter 30 cm Rp1-juta per m3. Itu harga beli
di lokasi pabrik yang lebih tinggi ketimbang harga
sengon.
Dengan diameter sama, perusahaan berumur
36 tahun itu membeli sengon Rp700.000/m3. KTI
mengolah kayu jabon itu sebagai kayu lapis dan
papan blok yang diminati Jepang. Negeri Matahari
Terbit itu rawan gempa sehingga memilih bahan
papan yang ringan seperti jabon. Setiap bulan
KTI memerlukan 45.000 m3 kayu. “Kami siap
menampung berapa pun pasokan jabon,” kata Capt
M Sain Latief dari PT Kutai Timber Indonesia.
PT Sekawan Sumber Sejahtera, industri di
Temanggung, Jawa Tengah, yang kini bermitra
dengan para pekebun juga mengharap pasokan
jabon secara rutin. Jika saat ini ada pasokan
jabon, PT Sekawan Sumber Sejahtera siap
menerima. Krishna Pryana dari PT Sekawan Sumber
Sejahtera menetapkan harga beli di lokasi pabrik
Rp540.000—Rp1,1-juta per m3 tergantung diameter
dan panjang kayu. Sebagai gambaran harga kayu
berdiameter 20—24 cm dan sepanjang 130 cm
mencapai Rp740.000; diameter minimal 50 cm dan
sepanjang 260 cm, Rp1,1-juta per m3.
Menurut Krishna, perusahaannya lebih
memilih kayu jabon berdiameter 25—29 cm
(harga di pabrik Rp820.000 per m3) dan diameter
30—39 (Rp920.000 per m3) dan sepanjang 260 cm.
Kebutuhan kayu PT Sekawan Sumber Sejahtera
mencapai 6.000 m3 per bulan. Kebutuhan itu
setara 30 ha jika populasi mencapai 400 pohon
per ha (setelah penjarangan) dan dipanen pada
umur 6 tahun. Itu jika volume produksi hanya
0,5 m3 per pohon.
Serapan pasar
Dua tahun terakhir masyarakat bergairah
mengebunkan jabon. Sayang, tak tersedia data
luas tanam jabon per tahun sehingga sulit
memprediksi volume panen. Luas penanaman dari
yang berskala kecil hingga sangat luas. Kingkin Suroso SE, Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan
Laut (Puspomal), menanam 2.000 jabon di areal
kantor Puspomal, Jakarta Utara seluas 5 ha. Aat
Aminuddin dan pekebun lain di Cisokan, Kabupaten
Cianjur, Jawa Barat, menanam jabon seluas 272 ha.
Populasi per ha mencapai 1.000 bibit yang kini
berumur 6 bulan. Di berbagai daerah, antusiasme
menanam jabon juga tampak.
Artinya 5—6 tahun ke depan, mereka mulai
panen. Pasar sanggup menampung produksi
mereka? “Kurang malah. Kayu itu tak dapat
tergantikan dengan plastik atau besi sekali pun.
Kebutuhan manusia akan kayu terus meningkat,”
kata Krishna Pryana. Agus Setiawan dari PT Kutai
Timber Indonesia juga sepakat, pasar sanggup
menyerap jabon. Ia menggambarkan ketika
pekebun ramai membudidayakan sengon,
harganya justru terus meningkat. Jika 10 tahun lalu
harga sengon Rp100.000, kini melonjak menjadi
Rp700.000 per m3.
Dr Irdika Mansur MForSc, ahli silvikultur,
mengatakan harga kayu memang cenderung
naik karena kelangkaan, jarak, dan inflasi. Kayu
cenderung langka sehingga harganya pun kian
meningkat. Itulah sebabnya, untuk menyiasatinya
Sukandar mengatakan bahwa industrilah yang kini
menyesuaikan mesin dengan ketersediaan kayu.
Dulu sebaliknya, kayu harus menyesuaikan dengan
mesin. Namun, menurut Sukandar untuk mengolah
jabon, industri tak perlu mengganti mesin yang
selama ini dimanfaatkan untuk mengolah sengon.
Dengan demikian, “Menanam jabon tak ada
ruginya. Jika dana pembelian 1.000 bibit untuk
lahan sehektar Rp3,5-juta kita taruh di bank, 5 tahun
lagi menjadi berapa? Bandingkan jika menanam
jabon, dengan harga jual minimal Rp100.000
per pohon, petani memperoleh Rp100-juta,” kata
Irdika. Harga Rp100.000 per pohon itu berdasar
pengalaman Irdika yang menebang sebuah pohon
berumur 3 tahun. Pengepul membeli pohon
muda itu Rp100.000. “Tak ada kata rugi, yang ada
keuntungan berkurang,” kata Irdika yang kini getol
mengkampanyekan penanaman jabon. Menanam
jabon sekarang, laba segar masa depan.( trubus,Juli 2010 )

  1. dipo teknik magelang / Jul 22 2010 3:22 pm

    nice blog visit our blog please

  2. dwi s / Jul 23 2010 11:37 pm

    nice info,,,kunjungi web kami juga ya

  3. rustam / Des 15 2010 1:21 pm

    Saya korban dari penipuan Hendrikus setiawan, uang sudah saya kirim bibit tidak kunjung dikirim, awas !!!! Hedrikus / deni adalah penipu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: